26 Agustus 2009

Can You Feel It ?

Hati ini ikut merasakan damai dan gembira saat melihat kamu selesai menunaikan ibadah untuk hari ini. Mengucap doa dan meneguk teh manis hangat sesaat setelah adzan, setelah dahaga seharian. Lalu kamu bersiap untuk sholat, mengambil wudhu dan mulai duduk kearah kiblat, berdoa dengan khusuk. Setelah selesai, kamu segera beranjak ke ruang makan, menikmati hidangan buatan ibu mu yang tiada banding kelezatannya, bertukar canda tawa dengan saudara-saudaramu dan membicarakan hal-hal politik santai dengan ayahmu. Rasanya ingin bergabung ditengah-tengah kalian, berbaur menjadi satu dengan hawa damai kekeluargaan yang ada di tengah kalian. Merasakan rasa syukur atas kemenangan hari ini.

Apakah kamu merasakan hal yang sama, saat melihatku menyiapkan pohon natal di rumah bersama adik-adikku ?, saat kami makan keluarga bersama tepat pada 24 desember malam, dan berbagi canda tawa yang sama ? Apa kamu merasakan damai yang sama saat melihat kami saling berbagi salam paskah dengan sanak saudara kami ? Apa kamu ikut gembira melihat anak-anak yang bersorak kesenangan melihat santa claus nya datang dengan sekarung hadiah ? Apa kamu merasakan bahagia itu ?

Jika aku bisa merasakan kebahagiaanmu dan kamu bisa merasakan kegembiraanku, tentunya kita tidak akan sungkan berbagi derita, berbagi cerita, berbagi hati dan cinta, berbagi bahasa dan tanah air. Jika kamu bisa merasakan itu dan aku bisa merasakannya juga, maka seharusnya kita tidaklah berbeda.

17 Agustus 2009

Orang Miskin Memang Miskin

Orang Indonesia, masih berbicara tentang ironi yang sama saat perayaan tujuh belasan. Do you know what is that ? I bet you already know it, it's poverty, kemiskinan yang masih sama dan tidak berubah walaupun kita sudah merdeka 64 tahun. Sang "kompeni" masih menjajah kita dalam wajah-wajah kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi, begitu kata mereka. And you know what !?! I'm sick to hear that....over and over again. Let me tell this to all of you who keep bringing that to my face, "Stop doing that !".

Kalian tahu penyebab orang-orang itu miskin ? Semua karena mereka pemalas...ya saya katakan PEMALAS !!! Alasannya adalah karena mereka memilih untuk mengandalkan belas kasihan orang lain di bandingkan kedua tangan dan kakinya sendiri. Saya tidak mau peduli jika mereka beralasan bahwa kebodohan, cacat fisik dan penolakan masyarakat menghalangi usaha mereka untuk lepas dari kemiskinan. Itu hanya alasan...they're just looking for an excuse to stay poor !!! Mereka mencari kambing hitam atas kemiskinan mereka sendiri !! Padahal mental merekalah peyebab utama segala kemalangan itu. Selain miskin materi, mereka juga miskin karakter, miskin semangat dan miskin motivasi seperti yang dicontohkan angkatan 45.

Tanpa rasa minder, mereka dengan lantangnya mengatakan, "Kami ini miskin pak, jadi sudah seharusnya dapat jatah BLT". Sekali lagi mereka menggantungkan hidup dari orang lain. Jika tidak kebagian jatah, tanpa rasa malu juga mereka menyalahkan pemerintah karena telah bertanggung jawab atas kemiskinan yang menimpa mereka. Saya hanya tertawa miris dalam hati. Ini adalah produk kemerdekaan setelah 64 tahun. Jika saja mereka mau membuang jauh-jauh perasaan rendah diri, rasa malas, malu dan mulai berdiri diatas kakinya sendiri untuk memperjuangkan hidupnya, mereka akan malu menganggap dirinya miskin lagi. Karena mereka bukan kaum miskin, tapi kaum pejuang untuk hidup.


13 Agustus 2009

The Apprentice of Terror

Source : detik.com

What do you think when you see the picture above ? I think the new generation of terror is rising. Small group of people in our home soil still hold this terror ideology of Jihad and Islam. They are the extremist who run their believe in selfish way. When others are in their way, opposing their point of view, they announce "holy" war, Jihad.
In short term, the goverment need to find a way to capture ( kill ) all of the actor, but in a long term, they need to find a way to erase the idea.

16 Juli 2009

Ada Internet Diatas Borobudur

"Siapa yang ngajarin kamu kalo Monas itu salah satu keajaiban dunia ?"
Pertanyaan bodoh itu dilemparkan ke wajah saya oleh salah seorang kakak kelas di depan semua murid-murid baru yang saat itu sedang mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa). Muka saya langsung memerah menahan malu akibat tawa murid-murid seisi ruangan yang menghujam urat malu saya. Dalam hati saya menyalahkan internet 100% untuk kejadian itu. Kenapa internet ?, akan saya jelaskan berikut ini.

Pada tahun 2000, saya menginjakan kaki di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu SMA. Dan karena saat itu belum ada blow-up kasus siswa baru yang di-plonco sampai tewas pada saat MOS, maka setiap SMA pada umumnya mengadakan MOS plus perploncoan untuk menyambut anak-anak tidak berdosa yang sedang puber itu, saya salah satunya. Dalam masa orientasi itu, salah satu tugas yang diberikan oleh para kakak kelas adalah mencari 7 artikel tentang 7 keajaiban dunia dalam satu malam. Mungkin saat ini saya menganggap tugas itu sangat mudah untuk dikerjakan, tapi pada saat itu rasanya seperti tugas Bandung Bondowoso yang harus membangun 1000 candi untuk Loro Jonggrang dalam satu malam, alias Mustahil. Hal ini menjadi mustahil dikarenakan MOS hari itu baru selesai jam 7 malam, sedangkan keesokan harinya, kami harus sudah berada di sekolah jam 6 pagi, dan pada saat itu, internet adalah barang langka yang belum memasyarakat. Belum ada broadband internet yang menyambangi perumahan rakyat dengan harga terjangkau seperti sekarang, dan satu-satunya warnet di daerah tempat saya tinggal sudah tutup jam 7 tepat. Jadi kemana saya harus mencari artikel-artikel itu ?

Saya sampai dirumah dengan digelayuti rasa putus asa, mustahil saya bisa menyelesaikan tugas mahaberat itu dalam satu malam. Saya tidak bisa memanggil ratusan jin untuk membantu saya seperti mas Bondowoso. Saya melamun merenungi nasib saya besok sambil menonton televisi malam itu, dan ternyata secercah harapan muncul dari layar kaca televisi itu. Sebuah iklan dengan theme song yang menarik muncul tiba-tiba. Sembilan bidadari meluncur dengan sepatu ice-skating nya sambil memegang sembilan papan round-board seperti di acara-acara pertandingan tinju. Papan itu bertuliskan 080989999 jika diurutkan. Wanita-wanita cantik itu berputar-putar sambil bernyanyi,"Kosong delapan kosong sembilan delapan sembilan empat kali.......tel***net intant........". Saya bengong sebentar, lalu melonjak seketika seperti mendapatkan wangsit. Ini dia......ini dia jawaban yang saya cari-cari sepanjang sore itu. Langsung saya berlari secepat kilat ke arah telepon dan menekan nomor cantik yang dinyanyikan para bidadari di iklan itu. Saya sudah tidak sabar untuk bisa segera meluncur di dunia internet. Selesai menekan tombol telepon saya menantikan suara bidadari yang akan menyapa saya di ujung sana dengan harap-harap cemas. Satu detik....dua detik....masih belum ada nada sambung. Detik ketiga, suara bidadari yang saya tunggu-tunggu menyapa. Dengan sopan dia menjawab, "Maaf, nomor yang anda panggil belum terpasang..."

Memang pada masa itu saya sedang berada di "zaman kegelapan" dalam dunia teknologi informasi. Oleh karena itu saya tidak tahu bahwa nomor cantik 080989999 itu harus diinput dalam dial-up modem yang tertanam di PC, bukannya nomor yang di dial di telepon. Akhirnya setelah menghubungi provider yang bersangkutan, saya mengerti bagaimana caranya mengakses dial-up internet. Seperti orang kesetanan yang terburu-buru karena waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, saya menarik kabel telepon untuk di tancapkan ke dalam slot RJ-11 di belakang PC saya. Setelah sekitar 2 menit bergulat dengan kabel, saya berhasil online. Puas sekali rasanya. Langsung saya mencari petunjuk ke "mbah" google, yang kata teman saya adalah sumber informasi paling luar biasa yang pernah ditemukan umat manusia. Waktu itu saya beranggapan google sebagai sebuah mesin yang berisi semua informasi di dunia, bukan sebuah search engine.

Setelah menunggu satu menit karena koneksi dial-up yang hanya up to 56 Kbps, terbuka jugalah halaman depan google.com. Dengan sigap saya mengetikan kata kuncinya. Artikel pertama yang saya dapat adalah tentang candi Borobudur yang berdiri pada jaman kejayaan dinasti sailendra dibawah raja Samaratungga. Artikel kedua adalah tentang Pyramid yang didirikan Pharaoh bernama Sneferu di Mesir. Sedangkan artikel ketiga tentang Taj mahal di India. Secara beruntun dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya saya berhasil menemukan satu-persatu keajaiban dari tujuh keajaiban dunia. Setelah menemukan artikel The great Wall of China, Colloseum dan Stonehenge, saya mulai bisa tersenyum. Betapa luar biasanya internet ini, informasi yang begitu banyak bisa diakses hanya dalam hitungan detik dan hanya dengan ujung jari saja. Dalam 45 menit saya pasti bisa menyelesaikan tugas ini, begitu pikir saya. Sampai pada akhirnya godaan itu datang. Dilayar desktop, saya melihat ada icon yang terlihat sangat familiar, icon yang sangat digemari ABG pada saat itu. Tapi kenapa icon itu ada disitu ? Ah....saya tidak peduli....saya tergoda.....sudah pasti saya tergoda.....saya tidak bisa menghindar lagi....tanpa pikir panjang langsung saya arahkan pointer mouse ke icon itu dan menekannya dua kali.

Kolaborasi warna merah, kuning dan biru pada huruf MIRC merupakan momok yang menakutkan bagi ABG yang pada tengah malam buta sedang menyelesaikan tugas maha berat dengan deadline yang sempit. Tetapi karena biasanya saya hanya bisa bengong saat mendengarkan teman-teman saya ngobrol tentang chatting di internet, maka kesempatan malam itu tidak bisa saya lewatkan. Ini adalah kesempatan emas untuk pertama kalinya bersentuhan dengan salah satu produk peradaban umat manusia yang akrab disebut dengan chatting. Langsung saya masuk ke salah satu chat room dan mengetikan, "asl pls..."

Pengalaman chatting untuk pertama kalinya memang tidak terlupakan. Kita bisa ngobrol dengan orang yang tidak kita kenal dengan lepas dan bebas, tidak ada batasan umur, ras ataupun gender. Tidak heran MIRC menjadi primadona bagi kaum muda.
Dua jam sudah lewat tanpa terasa. Saya tersentak kaget karena belum menyelesaikan tugas untuk besok. Lalu dengan terburu-buru saya sign out dari MIRC dan kembali beralih ke google. Enam artikel sudah di print dan disusun dengan rapi dalam buku tugas saya. Tinggal satu artikel lagi yang harus saya temukan.
Karena rasa ngantuk dan terburu-buru, saya sudah tidak sempat lagi meneliti artikel-artikel yang sudah ditemukan mbah google di web page nya. Saat itu lah bencana terjadi, dengan ceroboh saya asal meng-klik salah satu link dengan kata-kata seven wonders dan monas tanpa membacanya terlebih dahulu. Begitu web page terbuka langsung saya tekan tombol print dengan mantapnya dan tersenyum lega tanpa mengetahui kalau besok saya akan dipermalukan secara berjemaah oleh umat satu sekolahan.

Terlepas dari pengalaman pahit itu, internet telah mempengaruhi hidup saya, bahkan hidup umat manusia secara menyeluruh. Pada waktu SMA, mungkin arti internet hanya sebagai sarana chatting dan akses friendster. Tetapi saat beranjak ke universitas, arti internet mulai berkembang. Saya memakai internet untuk menghasilkan uang melalui game online, dan mengakses beberapa sesi online class semasa kuliah. Saat masuk di dunia kerja IT, internet betul-betul menjadi "pegangan hidup" yang tidak bisa dipisahkan dari profesi saya. Teman saya pernah bilang, "keluar rumah tanpa internet seperti keluar rumah tanpa celana !". Saya rasa banyak diantara kita yang setuju akan hal itu. Internet adalah missing puzzle dari 7 keajaiban dunia saya, jauh diatas Taj mahal dan Borobudur. Tanpa internet, dunia manusia tidak akan pernah sama dengan dunia yang kita tinggali sekarang.


***

09 Juli 2009

After The Election

Not long ago, far across this continent, an election was held in the biggest democratic country in the world. They made a history by choosing the first afro-american as their new president. I remember when the result is final, the other candidate, John McCain, saluted and congratulated Barrack Obama. He accepted his defeat, and with a big heart, admitted Obama as his president. A good example from a defeated politician.

Although our election result haven't reach the final number yet, but almost all of the third party survey foundation claims that SBY-Boediono wins the election in one round. I'm quite sure that deep in indonesian people heart, they can see this coming before the election starts.

And for the others candidate, i'm also sure that they're looking for some kind of miracle right now. But if the result is out, and the miracle did not happen, i also have a doubt that they will do the same thing as McCain. Prabowo for example, after the result from quick count and exit poll is released, he didn't take the result well enough. In fact he claims that the result is a joke and misleading people. And further he claims that his team have found many fraud and violation in the election process. After he said that, i'm 100% sure that he and Mega will not congratulate the winner and they will use the fraud and violation as the reason for their behaviour.

It's too bad tough, since Indonesian people are in the middle of a learning process in a democratic life. Therefore, every candidate should show a humble and big heart, whether they lose or win, cause in the end it's for the good of the nation itself.

03 Juli 2009

You Gone Too Soon Mr. Jackson

Seminggu yang lalu, jika saya ditanya soal Michael jackson, yang ada dikepala saya pasti hanya lagu Heal The World, karena memang hanya lagu legendaris itu yang saya tahu. Tapi setelah berita kematian Jacko yang menghebohkan itu, saya mulai mencoba mencari tahu lagu-lagu hits-nya.

Awalnya hanya iseng, saya coba unduh beberapa lagu hits seperti Black or White dan Beat It. Sekali mendengar saya langsung ketagihan. Mulai saya mencari Hits yang lainnya, dan kembali mengetikan "Michael Jackson" di search engine Soulseek saya, terus dan terus. Sampai akhirnya saya mendapatkan 40 lagu lebih. I'm addicted.

Setelah sang Legend pergi, saya baru sadar betapa jeniusnya Michael Jackson. Lagu-lagu yang dia ciptakan betul-betul membius saya, sehingga 8 jam sehari, 40 lagu itu terus saya putar dengan earphone yang tidak pernah lepas dari telinga saya. Ini betul-betul hal yang luar biasa buat saya, rasanya seperti merasakan jatuh cinta dengan The Beatles dulu, karena baru sekali (sekarang yang kedua) ini terjadi dalam jagad permusikan adrianus daniel....hehehe.

25 Juni, saat berita kematian tragis Jacko tersebar, saya nyaris tidak merasakan apa-apa, tapi sekarang saya merasa kehilangan salah seorang musisi jenius. Seorang legend memang harus menjalani hidup yang penuh kontroversi dan kematian yang tragis, saya rasa itulah syaratnya untuk menjadi legend of the legend, exactly like John Lennon. Apapun itu, saya rasa karya dan prestasinya bisa menutup semua kontroversi dalam hidupnya. You Gone Too Soon Mr. Jackson, But Your Voice Will Remain...

11 Juni 2009

At The Dawn of 24

Ya, saya tahu 17 Juni masih sekitar satu minggu lagi, tapi nggak ada salahnya untuk mulai review dari sekarang. Ok, jadi seminggu lagi 23 akan berubah menjadi 24, dan hampir seperempat abad hidup yang konyol ini sudah bertahan. Sayangnya bertambahnya umur berbanding lurus dengan bertambahnya indeks kesulitan hidup dan sayangnya lagi percepatan pertambahan umur tidak sebanding dengan percepatan kenaikan pendapatan. Tambah tua = tambah banyak rencana yang melibatkan masa depan = tambah banyak tanggung jawab soal masa depan = tambah banyak butuh uang = tambah kerja keras sambil cari pemasukan sampingan = tambah stress = tambah banyak penyakit mengancam = MENCRET !!!

At the dawn of 22, i felt a little bit naive. Baru lulus kuliah, pikiran saya terjejali dengan segudang harapan dan ekspektasi tentang masa depan, dan naifnya hanya harapan dan ekspektasi yang indah-indah saja yang masuk. Setelah 2 tahun bergulat, baru saya merasakan beratnya perjuangan untuk sebuah ekspektasi di kepala 22 tahun saya dulu. Betapa kurangnya perbekalan yang saya punya sehingga saya berani berkata, Bachelor Degree is Nothing, it's just a ticket to get through, that's it. Kalau saja saya menyadarinya sedari semester-semester awal pada waktu kuliah dulu, mungkin ceritanya akan lain, my "take-off" would be a lot smoother than this.

Tapi saat berandai-andai itu sudah saya lewati di angka 23. Penyesalan yang terlambat itu terobati dengan manisnya madu di awal-awal hubungan. Well it really helped me to get through the worst. Di angka 23 itu, saya mulai kembali menyusun rencana, step by step dan mengeksekusinya one at the time. Langkah pertama yang saya ambil adalah pindah kerja. Walaupun "kebetulan" turut andil dalam perpindahan kerja saya ini, tapi saya yakin bahwa memang ini adalah jalan saya dan awal dari rencana yang lebih besar.

Sekarang di saat pergantian 23 menjadi 24, saya akan kembali melihat kebelakang dan me-review rencana-rencana saya. Sekarang saya berprofesi sebagai SAP Consultant.....(ok, Junior). Tapi tak perlu rendah diri sebagai junior karena SAP adalah karir yang berprospek cerah dan saya harus bersyukur karena terjun ke SAP tanpa modal sama sekali dan ada perusahaan yang mau menerima sampah masyarakat ini. Kebanyakan junior yang terjun minimal harus berbekal sertifikasi, dan biaya sertifikasi dan training berkisar ribuan dollar US. Beribu-ribu malam pun saya mangkal di mahakam, nggak akan bisa nebus biaya itu.

Pendapatan saya saat ini terhitung masih rendah, karena range gaji saya belum beranjak dari kelas fresh graduate. Hal ini diperparah dengan krisis di akhir 2008 kemarin, sehingga kebijakan perusahaan memutuskan tidak ada kenaikan gaji. Pemasukan sampingan betul-betul menolong saat ini, selain dari saham, ada juga dari project bonus yang jumlahnya lumayan. Tapi walaupun pas-pasan, dalam setahun terakhir saya sudah 3 kali ganti notebook, itu sisi positifnya. Sisi negatifnya, semuanya ngutang.

Rencana awal saya di 24 adalah mulai nyicil apartemen, dan untungnya itu sudah tercapai di angka 23, walaupun harus dengan subsidi orang tua, karena antara harga apartemen dan pendapatan saya terdapat jurang yang sangat lebar. Berbeda sekali dengan jaman orang tua kita dulu yang dengan pendapatan ratusan ribu perbulan bisa membeli rumah yang masih berkisar jutaan rupiah. Sedangkan generasi sekarang yang berpenghasilan jutaan harus membeli rumah yang berkisar ratusan juta.

Awalnya memang untuk urusan satu ini, saya tidak mau melibatkan orang tua, tapi saya harus berpikir ulang. Usia wanita yang ideal untuk menikah adalah sekitar 26 sampai 27, itu menurut saya. Jadi kalau harus menunggu sampai angka 24 tiba untuk mulai nyicil tempat tinggal, rasanya akan sedikit terlambat bagi saya dan si neng untuk memulai hidup kami, karena umur kita hanya berselisih bulan saja. Jadi dengan pertimbangan itu, saya harus sedikit merendahkan ego saya dan minta bantuan orang tua untuk yang satu ini. Karena sekali lagi, dengan "take-off" yang kurang mulus, sangat sulit bagi saya untuk mengumpulkan uang dalam 2 tahun ini. Tapi saya cukup yakin, walaupun saya memulai karir di SAP dengan gaji "kacung", tapi dalam lima tahun saya bisa mencapai tarif pendapatan "direktur", dan saat itulah saya melunasi semua hutang budi pada orang tua.

Di akhir 24 saya juga merencanakan untuk pindah kerja lagi, karena saat itu juga berbarengan dengan habisnya kontrak kerja saya. Dan juga, saya masih memendam harapan untuk kerja di Singapore untuk mempersingkat pencapaian saya lima tahun kedepan. Saya akan sangat bersyukur jika sebelum 24 berakhir, saya sudah bisa kesana. Rencana menikah tetap di angka 26, karena saat itu cicilan apartemen sudah lunas dan apartemen sudah siap ditinggali dan mudah-mudahan saya sudah siap lahir batin saat angka itu tiba. Dan untuk jangka panjang, angka 30 adalah angka yang krusial, karena saat itu saya ingin memulai usaha sendiri dan banting setir dari status sebagai karyawan menjadi pemilik modal. Mudah-mudahan semuanya juga lancar.

21 Mei 2009

Akhirnya Datang Juga

Mungkin betul juga komentar si Neng, bahwa saya adalah orang yang gampang bosan, terlebih dalam masalah gadget. Walaupun baru beli notebook fujitsu s6410 sekitar akhir tahun lalu, tapi dasar emang gatel, ngeliat gadget baru, saya langsung memutuskan untuk mengganti notebook saya yang 'mahal' itu. Setelah pilih-memilih, akhirnya pilihan dijatuhkan ke Dell inspiron 1427.
Banyak orang yang bilang kalo saya jadi "turun derajat" dengan mengganti fujitsu dengan Dell, tapi jika menilik dari "jeroannya", Dell inspiron ini lebih mantap dibanding fujitsu, walaupun casingnya lebih mirip kayak Zyrex (no offense).

22 Maret 2009

Sunat

Suatu hari yg cerah, dimana hidup terasa santai dan poni gw masih rata kayak dora, tiba-tiba gw dilimpahkan suatu cobaan maha dahsyat. Suatu pertaruhan antara hidup dan mati yang harus dilewati oleh seorang bocah laki-laki dari timur yang hampir akil-balik ini akhirnya menghampiri gw juga.

Nyokap : 
Di, kamu kan udah kelas 6 SD sekarang, udah waktunya disunat tuh...ntar yah pas liburan panjang, gimana ?

Gw      : 
Ogah ah, pokoknya adi ga mao ya pake sunat-sunatan segala...ntar kalo adi mati pas  operasi gimana ?

Nyokap : 
Ee.....eee.... nih anak...disunat itu biar sehat, jadi ntar gedenya gak kena penyakit macem-macem,kok malah ngomongin mati, lagian temen kamu si Tony juga mau disunat  tuh.....bareng aja ya ?

Gw       : 
Yah mama...dia kan mao disunat gara-gara mao dibeliin komik detektif   conan lengkap  dari satu sampe tamat.

Nyokap : Yauda, ntar kamu mama beliin juga...gimana ?
Gw       : Ogah ah...adi kan bukan anak kecil lagi yg demen baca gituan...
Nyokap : Yauda, ntar mama beliin Tamagochi aja deh...mau ?
Gw       : Tamagochi ???? O......oke deh....

Akhirnya segala prinsip yg gw pegang teguh harus hancur luluh lantak lantaran diiming-imingi Tamagochi, sebuah benda yang berisi hewan peliharaan virtual yang kerjanya makan dan eek sembarangan.

Tibalah hari H yang ditunggu-tunggu Nyokap dan Adek gw, yaitu hari dimana gw harus meregang nyawa diatas meja operasi dengan selangkangan penuh darah. Gw nggak bisa tidur semaleman penuh gara-gara memikirkan hari yang bisa saja jadi hari terakhir dalam riwayat si ganteng adrianus daniel ini. Walhasil, muka gw uda kayak kalong lupa boker seminggu. Keringet dingin bercucuran dan pandangan jadi nggak fokus. Melihat gw yang menyongsong maut itu, entah mengapa muka adek gw senyum sumringah....sialan.

Sampailah kita di tempat pemotongan "burung" itu. Adek gw loncat penuh semangat masuk ke dalem ruang tunggu, gw melangkah paling akhir sambil setengah ngesot dengan leher diiket tali tambang biar gak kabur. Temen gw si Tony uda sampe duluan, mukanya gak kalah ijo dibanding gw. Tapi air mukanya keliatan lebih tegar, pasti sambil ngebayangin gimana caranya Conan bisa balikin badannya jadi gede lagi.

Pintu selasar ruang operasi terbuka, lalu muncul sang tukang jagal "burung" yang udah kesohor seantero perumahan itu.

Dokter   : Ayo siapa yg mau duluan ?
Nyokap : Tuh di, yuk kamu duluan aja ya...

Gw melotot sambil membatin dalam hati, apa salah anakmu ini padamu ma ?

Tapi akhirnya dengan segala tipu muslihat, gw berhasil meyakinkan Tony untuk mengajukan diri lebih dulu. Dia melangkah dengan cukup berani masuk kedalam, walaupun warna mukanya uda susah dibedain sama warna ijuk.

Satu menit lewat, dua menit, tiga menit....akhirnya tepat pada menit kelima lewat sembilan detik, ruang tunggu dikagetkan oleh teriakan Tony dari dalem ruang operasi. Gw panik. Lalu sambil ngebaca doa gw membatin, inailahi wa'inailahi rojiun, jasamu akan selalu kukenang kawan, beristirahatlah dengan tenang bersama 23 seri komik detektif conan-mu itu.

Tapi ternyata si Tony selamet. Dia keluar ruang operasi dengan muka bercucuran keringet sambil tersenyum. Dia melirik bangga ke arah gw, pandangannya seperti berkata, "mampus lu di...tuh dokter pake gunting rumput !". Lalu sambil ditemani mamanya, dia meninggalkan ruang praktek sambil ngangkang dengan jari teracung menunjukan lambang peace.

Tinggallah gw sendiri menunggu ajal. Senyum adek gw makin menggebu-gebu sementara gw makin mengkeret di pojokan. Isi perut udah berkecamuk nggak karuan. Rasanya pengen ngibrit aja keluar ruang tunggu sambil tereak, "biarkan burungku utuh.....BIARKAN BURUNGKU UTUH...!!!" Tapi apa daya, nyokap udah nyiapin senapan bius kalo sampe hal itu terjadi.......nasib.

Di dalem ruang praktek yang temaram, gw dengan pasrah melorotin celana dan naek keatas meja operasi. Ini pertama kalinya orang laen gw kasih ijin ngeliat "perabotan" gw selaen nyokap, keluarga besar, pembantu, tetangga, dan semua anak cewe di SD gw. Dalem hati gw ngucap doa berkali-kali. Tiba-tiba gw merasakan ada sesuatu yang dingin-dingin dibawah sana. Nggak, gw nggak ngompol, tapi tampaknya si dokter uda siap dengan jarum suntik biusnya......mampus gw......gw tereak sekenceng-kencengnya.

Setelah sadar, gw berfirasat kalo cobaan ini sudah lewat, tapi entah kenapa semua orang diruangan itu terlihat cemas, apakah si dokter lupa ngukur dulu sebelum motong ? Apakah betul ada salah potong ? Apakah si "burung" uda hilang tak berbekas ? Apakah power ranger buka celana dulu sebelum kencing ? Tak ada yang memberi jawaban. Pas gw liat ke bawah, sang dokter tersenyum gugup, "wah, efek biusnya uda abis ya, padahal masih dijahit nih....". Gw pingsan lagi dengan sukses.

Bagi orang yang baru selesai disunat, kencing adalah pekerjaan paling menyakitkan sedunia akherat. Rasanya kayak ngelepas kentut sambil ditonjok Mike Tyson di perut, lega tapi sakit bukan maen. Luar biasa sekali pengalaman sunat ini, betul-betul bisa mendewasakan seorang bocah lelaki yang tadinya takut sama jarum suntik. Setelah ini tinggal menagih janji Tamagochi sama nyokap.

Gw         : Ma, yuk beli Tamagochi...
Nyokap   : Iya...iya...yuk beli...
Adek gw  : Ma....wiwin juga mao ya dibeliin...
Nyokap   : Iya  nanti dibeliin masing-masing satu...

WHAT ?!? Gw gak terima, gw yang mempertaruhkan nyawa demi hewan virtual itu, malah adek gw yang ikutan menikmati hasilnya. Gw protes sejadi-jadinya sambil nahan ngilu di selangkangan.





25 Februari 2009

Aku Ingin...

Aku ingin jadi awan di atas sana.
Di pandangi dengan tinggi dan kagum sekaligus biasa saja.
Tanpa ekpektasi, hanya angin yang menjadikan.

Aku ingin jadi koin yang dilempar.
Menikmati waktu sambil menunggu saat yang tepat untuk jatuh.
Memilih sisi hidup mana untuk dijalani.

Aku ingin tenggelam dilautan.
Melayang mengambang seperti setan.
sampai tubuh menyentuh dasar dan bangkai di makan ikan.

Aku ingin menukar nyawa demi cinta.
Bukan sesuatu yang murahan dan gampangan.
Tapi sebuah pertukaran agar berarti.

Aku ingin berdarah demi negara.
Hancurkan diktator seperti Mugabe dan jadi pahlawan seperti Sudirman.
Tapi negara mana yang pantas ?

Aku ingin melebur dalam sesuatu yang besar.
Perang global atas nama nilai dan prinsip.
Bertarung bukan atas nama agama atau warna kulit.

Aku ingin mati dalam pelukan.
Seperti drama romantis, bukan seperti roman tragis.
Seperti aksi heroik, bukan seperti sinema elektronik.